Handphone,Sains,Humor And Manymore (25 Des 2013 )

Coretan Dinding

To The Point
Masuk pembahasan, kurang paham "SILAHKAN TANYA"
About Me
Salam Persahabatan Untuk Teman Semua. "Keep" Spirit .

26/01/2015

Pernahkan ya mengalami kejadian seperti itu? sama saya juga demikian,hhehhehehehe.Mau download video youtube tetapi tombol download dari IDM ( Internet Download Manager) tidak muncul? Padahal kalian sudah menginstal IDM dengan benar. dipikir - pikir kenapa begitu?

Nah, jika hal itu terjadi kemungkinan kalian belum menginstal "add on" IDM. Trus bagaimana caranya mencari add on tersebut ? Tenang, saya akan berikan caranya yang baik dan bener.

Pertama, masuklah kalian ke link berikut ini : idm add on. Setelah itu akan muncul gambar 1 dibawah ini.

Gambar 1
Langsung cari bagian bawah dari situs tersebut dan klik tombol instal, seperti yang dilingkari biru pada gambar 1. Kemudian save/simpan file tersebut dilokasi yang sudah kalian tentukan.

Kedua. Balik lagi ke browser firefox kalian dan tekan tombol "alt". Pada bagian atas akan muncul menu dari firefox.

Gambar 2
Pilih menu "tool" dan pilih "add on". Lihat gambar 2 diatas.

Ketiga. kalian akan dibawa ke halaman add on. Kemudian klik ikon gigi tarik sepeda motor disebelah kanan atas. Lihat gambar 3 diatas yang diwarnai lingkaran merah.

Gambar 3
Setelah itu pilih "install add on from file". Nah sekarang kalian cari dimana tempat penyimpanan file yang tadi di unduh/download. Klik file tersebut, ikuti proses instalasinya sampai selesai. setelah itu browser kalian meminta untuk diaktifkan ulang, ikuti saja ya.

Langkah terakhir dan penting adalah mengaktifkan idm ini agar muncul tombol downloadnya. Caranya adalah sebagai berikut.

* Tekan tombol "alt" pada keyboard sehingga akan muncul menu pada firefox browser.

Kemudian pilih "tools => Add ons", maka akan muncul tab baru tentang add ons.

* Sekarang kita akan mengaktifkan idm-nya :

Lihat gambar di atas, pilih "extensions => kemudian cari IDM CC dan pilih enable", semua yang dilingkarai merah.

Sekarang coba buka video youtube kalian dan tombol download idm sudah muncul kembali..

Ok, sekian dari saya dan komentar ya kalo ada manfaatnya.
Kategori:

23/01/2015




A. JUDUL
:
Penerapan Pembelajaran Diskusi Kelas dengan Menggunakan Handout Bergambar terhadap Peningkatan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VII1  MTsN Rambah Tahun Ajaran 2010/2011
B. PENELITI/NPM
:
Dahlia/076510970
C. PENDAHULUAN

:

1. Latar Belakang  
Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia peserta didik dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka. Secara detail, dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1  pendidikan didefenisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Syah, 2008)  .
Pendidikan adalah investasi sumber daya manusia jangka panjang yang mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia. Oleh sebab itu, hampir semua negara menempatkan variabel pendidikan sebagai sesuatu yang penting dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara. Begitu juga Indonesia menempatkan pendidikan sebagai sesuatu yang penting dan utama (Kunandar, 2007).
            Pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan, lebih jelasnya lagi pendidikan adalah pimpinan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak-anak, dalam pertumbuhannya       (jasmani dan rohani) agar berguna bagi diri sendiri dan bagi masyarakat                   (Purwanto, 2007).

            Kemampuan dan keterampilan yang dimiliki  sesorang tentu sesuai tingkat pendidikan yang diikutinya, semakin tinggi pendidikan seseorang maka diasumsikan semakin tinggi pula pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan. Hal ini menggambarkan bahwa fungsi pendidikan dapat meningkatkan kesejahtraan, karena orang yang berpendidikan dapat terhindar dari kebodohan maupun kemiskinan. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa fungsi pendidikan adalah membimbing anak ke arah suatu tujuan yang kita nilai tinggi. Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil membawa semua anak didik kepada tujuan itu (Sagala, 2010).
            Apa yang diajarkan hendaknya dipahami sepenuhnya oleh semua anak. UUSPN No. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan pada akhirnya harus diajukan pada upaya mewujudkan sebuah masyarakat yang ditandai adanya keluhuran budi dalam diri individu, keadilan dalam negara, dan sebuah kehidupan yang lebih bahagia dan saleh dari tiap individunya          (Sagala, 2010).
            Pendidikan merupakan sebuah progam yang terdiri dari beberapa komponen yang bekerja dalam sebuah sistem. Komponen-komponen bekerja sama satu sama lain untuk mencapai tujuan pendidikan. Input pendidikan adalah siswa sebelum mengikuti proses belajar mengajar. Dalam pendidikan siswa memasuki sebuah proses transformasi pembelajaran yang menimbulkan kegiatan belajar bagi siswa. Dalam proses itu siswa berinteraksi dengan komponen instrumental pendidikan seperti guru, materi, media, sarana dan metode mengajar. Disamping itu dalam pembelajaran siswa juga berinteraksi dengan lingkungan, baik fisik maupun sosial. Proses transformasi menghasilkan siswa yang telah berubah perilakunya setelah mengikuti pendidikan (Arikunto dalam Purwanto, 2009).
            Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah guru. Guru dalam konteks pendidikan mempunyai peranan yang besar dan strategis. Hal ini disebabkan gurulah yang berada dibarisan terdepan dalam pelaksanaan pendidikan. Gurulah yang langsung berhadapan dengan peserta didik untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus mendidik dengan nilai-nilai positif melalui bimbingan dan keteladanan (Kunandar, 2007).
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya                  (Uno, 2007). Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti, bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada disekolah maupun dilingkungan rumah atau keluarganya sendiri (Syah, 2008).
            Tujuan pendidikan direncanakan untuk dapat dicapai dalam proses belajar mengajar. Hasil belajar merupakan pencapaian tujuan pendidikan pada siswa yang mengikuti proses belajar mengajar. Tujuan pendidikan bersifat ideal, sedang hasil belajar bersifat aktual. Hasil belajar merupakan realisasi tercapainya tujuan pendidikan, sehingga hasil belajar yang diukur sangat tergantung pada tujuan pendidikannya (Purwanto, 2009).
            Observasi yang telah dilaksanakan pada tanggal 4 sampai 5 Oktober 2010 dan hasil wawancara yang dilakukan terhadap guru biologi MTsN Rambah, diperoleh beberapa informasi bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kurang optimalnya kegiatan belajar mengajar  dan rendahnya hasil belajar. Faktor tersebut seperti: guru belum pernah menerapkan model pembelajaran diskusi kelas dengan handout bergambar (metode ceramah/metode belajar kurang bervariasi), ketersedian buku yang kurang memadai (tidak semua siswa mempunyai buku paket), kurangnya minat siswa dalam belajar, kurangnya keaktifan siswa dalam belajar, keterbatasan bahan ajar yang digunakan, dan peralatan laboratorium IPA yang tidak lengkap.
            Teknik diskusi adalah salah satu teknik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru disekolah. Didalam diskusi ini proses belajar mengajar terjadi, dimana interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, dapat terjadi juga semuanya aktif, tidak ada pasif  sebagai pendengar saja (Djamarah dan Zain, 2006).
       Berdasarkan permasalahan atau fokus masalah di atas, penulis ingin menerapkan pembelajaran diskusi kelas dan handout bergambar yang diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa dalam memahami materi biologi. Model pembelajaran diskusi kelas dan handout bergambar ini belum pernah diterapkan sebelumnya oleh peneliti lain di MTsN Rambah. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk menerapkan model diskusi kelas dan handout bergambar tersebut dengan merumuskan judul penelitian sebagai berikut: Penerapan Pembelajaran Diskusi Kelas dengan Menggunakan Handout Bergambar untuk Meningkatkan  Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VII1 MTsN Rambah Tahun Ajaran 2010/2011.     
        Dengan model pembelajaran diskusi kelas ini semua siswa dapat dilibatkan secara langsung dalam KBM, selain itu model diskusi ini juga dapat memberikan kesempatan kepada siswa yang telah menguasai materi pelajaran untuk membantu memecahkan masalah-masalah siswa lainya, ini dapat menyebabkan siswa merasa dirinya penting dan menyadarkan mereka bahwa memiliki sesuatu yang bermanfaat untuk dibagikan. Dengan model diskusi ini setiap siswa dapat menguji tingkat pengetahuan dan penguasaan bahan pelajaran masing-masing serta dapat menumbuhkan dan mengembangkan cara berfikir dan sikap ilmiah (Trianto,2010).

2. Identifikasi Masalah
    Berdasarkan hasil pengamatan di MTsN Rambah yang dilaksanakan pada tanggal 4 sampai 5 Oktober 2010 dan hasil wawancara  yang dilakukan terhadap guru biologi MTsN Rambah, maka masalah yang teridentifikasi sebagai berikut :
1)      Guru belum pernah menerapkan model pembelajaran diskusi kelas dengan handout bergambar (metode ceramah/metode belajar kurang bervariasi).
2)      Ketersediaan buku yang kurang memadai.
3)      Kurangnya minat siswa dalam belajar.
4)      Kurangnya keaktifan siswa dalam proses belajar.
5)      Keterbatasan bahan ajar yang digunakan.
6)      Peralatan laboratorium IPA belum lengkap.
7)      Hasil belajar biologi siswa kelas VII1 masih dikategorikan sedang yaitu hanya sekitar 60% yang tuntas dengan belajar dengan KKM 65.

3. Pembatasan Masalah
            Penelitian ini dilaksanakan pada materi Standar Kompetensi  7 yaitu, Memahami saling ketergantungan dalam ekosistem, pada KD 7.1 yaitu  Menentukan ekosistem dan saling hubungan antara komponen ekosistem, KD 7.2 Mengidentifikasikan pentingnya keanekaragaman makhluk hidup.

4. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Bagaimanakah penerapan  pembelajaran diskusi kelas dengan menggunakan handout bergambar dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas VII1 MTsN Rambah tahun ajaran 2010/2011?

5. Tujuan dan Manfaat Penelitian
5.1 Tujuan penelitian
    Berdasarkan perumusan masalah dan batasan masalah yang telah ada, maka tujuan penelitian yang di laksanakan di MTsN Rambah ini adalah sebagai berikut: Untuk mengetahui apakah penerapan pembelajaran diskusi kelas dengan menggunakan handout bergambar  dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas VII1 MTsN  Rambah tahun ajaran 2010/2011.

5.2 Manfaat Penelitian
           Hasil penelitian yang dilakukan di MTsN  Rambah diharapkan dapat berguna atau  bermanfaat bagi:

1)    Siswa, sebagai masukan agar lebih termotivasi dalam meningkatkan hasil belajar.
2)      Guru, sebagai masukan agar selalu berusaha lebih baik dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar biologi dan salah satu masukan dalam penggunaan media pembelajaran.
3)      Sekolah, sebagai bahan pertimbangan untuk peningkatan pelaksanan kegiatan belajar khususnya dalam mata pelajaran biologi.
4)      Peneliti, menambah pengetahuan dan sebagai masukan supaya mempersiapkan diri lebih baik dalam pelaksanaan kegiatan belajar pada masa yang akan datang.

6. Definisi Istilah Judul
           Untuk menghindari kesalah pahaman terhadap pengertian terminologi judul penelitian, maka di rumuskan beberapa definisi sebagai berikut:
Diskusi adalah suatu percakapan ilmiah oleh beberapa orang yang tergabung dalam satu kelompok, untuk saling bertukar pendapat tentang suatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan mendapatkan jawaban dan kebenaran atas suatu masalah (Trianto, 2007).
Diskusi merupakan situasi dimana guru dan para siswa, atau antara siswa dengan siswa yang lain berbincang satu sama lain dan berbagai gagasan dan pendapat mereka. Pertanyaan yang diajukan untuk merangsang diskusi biasanya pada tingkat kognitif tinggi (Trianto, 2010).
        Media pendidikan adalah alat, metode, dan teknik yang menggunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antar guru dan pebelajar dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah (Hamalik dalam Neviyarni, 2005).
        Handout adalah bahan tertulis yang disiapkan oleh seorang guru dan dilengkapi dengan gambar-gambar yang sesuai dan bermakna untuk memperkaya pengetahuan peserta didik. Handout biasanya diambil dari beberapa literatur yang memiliki relevansi dengan materi yang diajarkan/kompetensi dasar dan materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik (Elfis, 2008c).
        Hasil belajar adalah kemampuan siswa dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam satu kompetensi dasar (Kunandar, 2007).

D. TINJAUAN TEORI  DAN HIPOTESIS TINDAKAN
1. Tinjauan teori
1.1 Teori Konstruktivisme dalam Pembelajaran Sains
            Salah satu landasan teoritik pendidikan moderen termasuk CTL adalah teori pembelajaran konstruktivis. Pendekatan ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar (Amri dan Ahmadi, 2010).
Menurut Amri dan Ahmadi (2010), tujuan pembelajaran konstruktivis adalah sebagai berikut:
1)      Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal.
2)      Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan.

            Teori-teori baru dalam psikologi pendidikan dikelompokkan dalam teori pembelajaran konstruktivisme (constructivist theories of learning). Teori ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide (Trianto, 2007).
            Belajar menurut teori konstruktivistik bukanlah sekedar menghafal akan tetapi, proses mengkontruksi pengetahuan melalui pengalaman. Pengetahuan bukanlah hasil “ pemberian ” dari orang lain seperti guru, akan tetapi hasil dari proses mengkonstruksi yang dilakukan setiap individu. Pengetahuan hasil dari pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna (Sanjaya, 2010).
           Consrtuctivism (konstruktivisme) merupakan landasan berfikir (filisofi) pendekatan kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekoyong-koyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata (Trianto, 2007).
            Menurut teori konstruktivisme, data prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa kepemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut (Nur dalam Trianto, 2010). 
            Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Filsafat konstruktivis yang digagas oleh Mart Baldawin dan dikembangkan dan diperdalam oleh Jean Peaget menganggab bahwa pengetahuan itu terbentuk bukan hanya dari objek semata, akan tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang diamatinya (Elfis, 2010a).
            Menurut Elfis (2010a), prinsip dalam konstruktivisme yang harus dipegang guru antara lain adalah:
1)      Proses pembelajaran harus lebih utama dari pada hasil pembelajaran.
2)      Informasi bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata siswa lebih penting dari pada informasi verbalistik.
3)      Siswa mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk menemukan, menerapkan idenya sendiri.
4)      Pengetahuan siswa tumbuh dan berkembang melalui pengalaman sendiri.
5)      Pengalaman siswa akan berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila diuji dengan pengalaman baru.
6)      Pengalaman siswa bisa dibangun secara asimilasi (yaitu pengetahuan baru dibangun dari struktur pengetahuan yang sudah ada) maupun akomodasi         (yaitu struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menampung/menyesuaikan hadirnya pengetahuan baru).

1.2 Paradigma Pembelajaran Biologi
            Salah satu landasan teoritik pendidikan Biologi modern termasuk pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) adalah teori pembelajaran konstruktivisme. Pendekatan ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar lebih diwarnai student centered dari pada teacher centered. Sebagian besar waktu proses belajar mengajar berlangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa (Elfis 2010b).
            Ide‑ide konstruktivis modern banyak berlandaskan pada teori Vygotsky yang telah digunakan untuk menunjang metode pengajaran yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis kegiatan, dan penemuan. Salah satu prinsip kunci yang diturunkan dari teorinya adalah menekankan pada hakikat sosial dan pembelajaran. Ia mengemukakan bahwa siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu (Slavin dalam Elfis 2010b).
            Berdasarkan teori ini dikembangkan pembelajaran kooperatif, yaitu siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep‑konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Dalam mengubah miskonsepsi siswa menuju konsepsi ilmiah dalam pembelajaran biologi, diperlukan strategi pengubahan konsep (conceptual change) yang tepat dan diberikan pada saat yang tepat pula. Pengubahan konsepsi dapat dilakukan dengan menyajikan konflik kognitif (cognitive conflict). Hal ini dilakukan secara hati‑hati jangan sampai konflik kognitif yang disampaikan justru akan memperkuat stabilitas miskonsepsi siswa (Elfis, 2010b).

1.3 Metode Diskusi Kelas
            Diskusi adalah sebuah interaksi komunikasi antara dua orang atau lebih (sebagai suatu kelompok). Biasanya komunikasi antara mereka/kelompok berupa salah satu ilmu atau pengetahuan dasar yang akhirnya memberikan rasa pemahaman yang baik dan benar. Diskusi bisa berupa apa saja yang awalnya disebut topik. Dari topik inilah diskusi berkembang, dibincangkan, dan pada akhirnya menghasilkan suatu pemahaman dari topik tersebut (Amri dan Ahmadi, 2010).
            Teknik diskusi adalah salah satu teknik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru di sekolah. Didalam diskusi ini proses belajar mengajar terjadi, dimana interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, dapat terjadi juga semuanya aktif, tidak ada pasif  sebagai pendengar saja (Djamarah dan Zain, 2006).
            Diskusi adalah suatu percakapan ilmiah oleh beberapa orang yang bergabung dalam suatu kelompok, untuk saling bertukar pendapat tentang suatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan, mendapatkan jawaban dan kebenaran atas suatu masalah (Suryosubroto dalam Trianto, 2007). Pengertian umum diskusi adalah membicarakan suatu masalah oleh para peserta diskusi dengan tujuan menemukan pemecahan yang paling baik berdasarkan berbagai masukan. Diskusi sebagai suatu bentuk pembelajaran umum adalah suatu cara pembelajaran dimana peserta didik (murid, mahasiswa) mendiskusikan (membicarakan, mencari jawaban bersama) dengan cara saling memberikan pendapatnya, kemudian disaring untuk ditemukan kesimpulan. Tentu saja persyaratan terjadinya pembelajaran dengan diskusi adalah bahwa bahasa benar-benar sudah sangat dikuasai oleh peserta didik. Guru tidak lagi memberikan perhatian pada bahasa, melainkan pada isi atau materi diskusi (Amri dan Ahmadi, 2010).
            Diskusi secara umum digunakan untuk memperbaiki cara berpikir dan keterampilan komunikasi siswa dan untuk menggalakkan keterlibatan siswa dalam pelajaran (Trianto, 2010). Diskusi digunakan oleh para guru untuk setidaknya tiga tujuan pembelajaran yang penting, yaitu: pertama, meningkatkan cara berpikir siswa dengan jalan membantu siswa membangkitkan pemahaman isi pelajaran. Kedua, menumbuhkan keterlibatan dan partisipasi siswa. Ketiga, membantu siswa mempelajari keterampilan komunikasi dan proses berfikir (Tjokrodihardjo dalam Trianto, 2010).
            Metode diskusi menghasilkan keterlibatan murid karena meminta mereka menafsirkan pelajaran. Dengan demikian para murid tidak akan memperoleh pengetahuan tanpa mengambilnya untuk dirinya sendiri. Diskusi membantu agar pelajaran dikembangkan terus-menerus atau disusun berangsur-angsur dan merangsang semangat bertanya dan minat perorangan. Tidak ada cara lain yang lebih sesuai untuk menjamin pengungkapan perorangan atau penerapan pelajaran (Amri dan Ahmadi, 2010). 
            Diskusi merupakan situasi dimana guru dan para siswa, atau antara siswa dengan siswa yang lain berbincang satu sama lain dan berbagai gagasan dan pendapat mereka. Pertanyaan yang diajukan untuk merangsang diskusi biasanya pada tingkat kognitif tinggi (Trianto, 2010).                      
      Agar diskusi bisa produktif  harus ada suasana keramahan dan keterbukaan. Diskusi yang bermanfaat didasarkan atas dasar saling menghormati pendapat setiap orang yang hadir. Pemimpin diskusi dengan ikhlas mengajak yang lain untuk ikut serta dalam suatu usaha bersama. Peran guru yang memimpin suatu diskusi lebih sukar dari pada bila ia memakai cara mengajar yang lain. Cara ini meminta persiapan yang seksama dan bimbingan yang cakap. Guru harus mempunyai latar belakang pengalaman dan simpanan pengetahuan agar dia bisa memimpin sebuah diskusi secara kreatif (Amri dan Ahmadi, 2010).
            Metode diskusi yaitu interaksi antara siswa dan siswa atau siswa dengan guru untuk menganalisis, memecahkan masalah, menggali atau meperdebatkan topik atau permasalahan tertentu (Trianto, 2010). Dalam pembelajaran diskusi mempunyai arti suatu situasi dimana guru dengan siswa atau siswa dengan siswa yang lain saling bertukar pendapat secara lisan, saling berbagi gagasan dan pendapat. Pertanyaan yang ditujukan untuk membangkitkan diskusi berada pada tingkat kognitif lebih tinggi (Arends dalam Trianto, 2007).
            Menurut Suryosubroto dalam Trianto (2007), bahwa diskusi oleh guru digunakan apabila hendak:
1)      Memanfaatkan berbagai kemapuan yang ada oleh siswa.
2)      Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menyalurkan kemapuannya masing-masing.
3)      Memperoleh umpan balik dari para siswa tentang apakah tujuan yang telah dirumuskan telah tercapai.
4)      Membantu para siswa belajar berfikir teoritis dan praktis lewat berbagai mata pelajaran dan kegiatan sekolah.
5)      Membantu para siswa belajar menilai kemapuan dan peranan diri sendiri maupun teman-temannya.
6)      Membantu para siswa menyadari dan mampu merumuskan berbagai masalah yang di “ lihat” baik dari pengalaman sendiri maupun dari pelajaran sekolah.
7)      Mengembangkan motivasi untuk belajar lebih lanjut.
            Diskusi memberikan kesempatan tidak hanya untuk menggunakan pikiran, tetapi bila dikerjakan dengan cepat, membantu siswa membentuk suatu sikap positif terhadap cara berfikir (Trianto, 2007). Selama diskusi pemimpin akan memakai pertanyaan dan komentar untuk memusatkan perhatian pada pokok persoalannya dan dengan demikian meneruskan diskusi tersebut. Kadang-kadang, guru perlu mengulangi dan meringkaskan apa yang telah dibicarakan atau disimpulkan. Gurulah yang akan menentukan suasana sepanjang diskusi itu. Ia harus bisa merasa kapan ia harus membatasi mereka yang terlalu banyak bicara atau mendorong mereka yang ragu-ragu untuk ambil bagian (Amri dan Ahmadi, 2010).
            Menurut Suryosubroto dalam Trianto (2010), keuntungan dari model diskusi adalah:
1)      Diskusi melibatkan semua siswa secara langsung dalam KBM.
2)      Setiap siswa dapat menguji tingkat pengetahuan dan penguasaan bahan pelajarannya masing-masing.
3)      Diskusi dapat menumbuhkan dan mengembangkan cara berfikir dan sikap ilmiah.
4)      Dengan mengajukan dan mempertahankan pendapatnya dalam diskusi diharapkan para siswa akan dapat memperoleh kepercayaan akan (kemampuan) diri sendiri.
5)      Diskusi dapat menunjang usaha-usaha pengembangan sikap sosial dan sikap demokratis para siswa.

            Menurut Neviyarni (2005), disamping beberapa keuntungan yang dimiliki metode diskusi, terdapat pula kelemahan sebagai berikut:
1)      Sulit menentukan topik masalah yang sesuai dengan tingkat berfikir dan memiliki hubungan dengan kehidupan siswa di masyarakat.
2)      Metode diskusi sulit diramalkan hasilnya dan sering penyelesaian masalah tidak tuntas walaupun sudah diatur dan dilaksanakan dalam waktu yang relatif lama.
3)      Metode ini menjadi kurang efisien bila kondisi meja dan kursi sulit dirobah posisi sesuai dengan yang dibutuhkan.
4)      Sering kali pembicaraan didominasi oleh satu atau beberapa orang dalam kelompok, sehingga anggota kelompok lain seolah-olah sebagai pendengar.
5)      Pembahasan atau pembicaraan sering keluar dari persoalan yang sedang dihadapi.
6)  Perbedaan pendapat dalam berdiskusi dapat mengundang reaksi negatif di luar kelas bahkan dapat menimbulkan bentrok.








Tabel 1
Langkah-langkah guna menyelenggarakan diskusi kelas

Tahapan
Kegiatan guru
Tahap 1
Menyampaikan tujuan dan mengatur setting
-        Guru menyampaikan tujuan pembelajaran khusus dan menyiapkan siswa untuk berpartisipasi

Tahap 2
Mengarahkan diskusi
- Guru mengarahkan fokus diskusi dengan menguraikan aturan-aturan dasar, mengajukan pertanyaan-pertanyaan awal, menyajikan situasi yang tidak dapat segera dijelaskan, atau menyampaikan isu diskusi

Tahap 3
Menyelenggarakan diskusi
- Guru memonitor antar aksi, mengajukan pertanyaan, mendengarkan gagasan siswa, menanggapi gagasan, melaksanakan aturan dasar, membuat catatan diskusi, menyampaikan gagasan sendiri

Tahap 4
Mengakhiri diskusi
- Guru menutup diskusi dengan merangkum atau mengungkapkan makna diskusi yang telah di selenggarakan kepada siswa

Tahap 5
Melakukan Tanya jawab singkat tentang proses diskusi itu
- Guru menyuruh para siswa untuk memeriksa proses dikusi dan berfikir siswa

Sumber: Tjokodihardjo dalam Trianto, (2010)

1.4 Pengaruh Penerapan Pembelajaran Diskusi Kelas dengan Menggunakan Handout Bergambar terhadap Peningkatan Hasil Belajar

            Untuk meningkatkan hasil belajar dapat dilakukan dengan penerapan pembelajaran diskusi kelas dengan menggunakan handout bergambar karena dalam penerapan pembelajaran tersebut siswa mendapat informasi yang sangat akurat dan siswa bisa berpikir kritis tidak hanya bersifat pasif, sehingga aktivitas belajar siswa meningkat.  
            Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran, dimana siswa dihadapka pada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama (Djamarah dan Zain, 2006).
            Metode diskusi menghasilkan keterlibatan murid karena meminta mereka menafsirkan pelajaran. Dengan demikian para murid tidak akan memperoleh pengetahuan tanpa mengambilnya untuk dirinya sendiri. Diskusi membantu agar pelajaran dikembangkan terus-menerus atau disusun berangsur-angsur dan merangsang semangat bertanya dan minat perorangan. Tidak ada cara lain yang lebih sesuai untuk menjamin pengungkapan perorangan atau penerapan pelajaran (Amri dan Ahmadi, 2010). 
Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemapuan manusia yang terjadi setelah belajar terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja (Gagne dalam Sagala, 2010). Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Selain itu hasil belajar disebut juga perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja (Suprijono, 2009).
            Handout adalah bahan tertulis yang disiapkan oleh seorang guru dan dilengkapi dengan gambar-gambar yang sesuai dan bermakna untuk memperkaya pengetahuan peserta didik. Handout biasanya diambil dari beberapa literatur yang memiliki relevansi dengan materi yang diajarkan/kompetensi dasar dan materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik (Elfis, 2008c).

1.5 Media Pembelajaran
            Media sebagai sumber belajar diakui sebagai alat bantu auditif, visual, dan audiovisual. Penggunaan ketiga jenis sumber belajar ini sembarangan, tetapi harus disesuaikan dengan perumusan tujuan instruksional, dan tentu saja dengan kompetensi guru itu sendiri, dan sebagainya (Djamarah dan Zain, 2006).

            Dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidak jelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak didik dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat tertentu. Bahkan keabstrakan bahan dapat dikonkretkan dengan kehadiran media. Dengan demikian, anak didik lebih mudah mencerna bahan dari pada tanpa bantuan media (Djamarah dan Zain, 2006).
            Pemakaian media dalam proses pembelajaran dapat membuat keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap pembelajar. Penggunaan media pembelajaran akan sangat membantu ke-efektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu, selain itu media pembelajaran juga dapat membantu pebelajar meningkatkan pemahaman, menyajikan data, dan menarik dan terpecaya, memudahkan penafsiran data dan memadatkan informasi (Hamalik dalam Neviyarni, 2005).
            Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam, seperti film strip (film rangkai), Slide (film bingkai) foto, Gambar atau lukisan, dan cetakan (Djamarah dan Zain, 2006).
            Media dalam proses pembelajaran dapat diartikan sebagai alat bantu untuk mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran. Sedangkan sumber belajar adalah segala sesuatu yang mengandung pesan yang harus dipelajari sesuai dengan materi pelajaran. Penentuan media dan sumber belajar harus sesuai dengan karakteristik peserta didik dan karakteristik daerah. Suatu media dan sumber belajar yang digunakan tidak mungkin cocok untuk semua siswa (Sanjaya, 2010).

1.6 Handout  
Handout adalah bahan tertulis yang disiapkan oleh seorang guru dan dilengkapi dengan gambar-gambar yang sesuai dan bermakna untuk memperkaya pengetahuan peserta didik. Handout  biasanya diambil dari beberapa literatur yang memiliki relevansi dengan materi yang diajarkan/kompetensi dasar dan materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik (Elfis, 2010c).
Selanjutnya Elfis (2010c), menjelaskan langkah-langkah dalam menyusun handout bergambar, yaitu:
1)      Melakukan analisis kurikulum
2)      Menentukan judul handout, sesuaikan dengan KD dan materi pokok yang akan dicapai.
3)      Mengumpulkan referensi sebagai bahan penulisan dan gambar-gambar yang bermakna dan sesuai dengan materi. Gambar harus mengandung sesuatu yang dapat dilihat dan penuh dengan informasi/data. Sehingga gambar tidak hanya sekedar gambar yang tidak mengandung arti atau tidak ada yang dapat dipelajari. Upayakan referensi terkini dan relevan dengan materi pokoknya.
4)      Menulis handout serta mengatur tata letak gambar. Dalam menulis upayakan  agar kalimat yang digunakan tidak terlalu panjang, untuk siswa SMA diperkirakan jumlah kata per kalimatnya tidak lebih dari 25 kata dan dalam satu paragraph usahakan jumlah kalimatnya antara 3-7 kalimat saja. Dan untuk pengaturan tata letak dan ukuran gambar juga sangat harus diperhatikan. Letak gambar harus sesuai dengan keterangan yang ada sehinga tidak menimbulkan kekeliruan ataupun kesalahpahaman dalam mengerti makna sebuah. Ukuran gambar harus disesuaikan, jangan terlalu kecil ataupun terlalu besar.
5)      Mengevaluasi hasil tulisan dan gambar-gambar dengan cara dibaca berulang-ulang, bila perlu bantuan dari orang lain untuk mendapatkan masukan.
6)      Memperbaiki handout sesuai dengan kekurangan-kekurangan yang ditemukan.
7)      Gunakan berbagai sumber belajar yang dapat memperkaya materi baik dari segi penjelasan isi materi maupun gambar-gambar yang menarik dan sesuai misalnya buku, majalah, internet, jurnal hasil penelitian.


1.7 Hasil Belajar
              Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar (Dimyati dan Midjiono, 2002). Selain itu belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui kreativitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara alamiah (Gagne dalam Suprijono, 2009).
Belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Belajar juga dipahami sebagai suatu perilaku, pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya bila ia tidak belajar, maka responya menurun (Skinner dalam Sagala, 2010).
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan itu akan nyata pada seluruh aspek tingkah laku. Belajar juga dapat diartikan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Daryanto, 2010). Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan (Suprijono, 2009).
      Proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa memiliki motivasi dalam belajar. Oleh sebab itu guru perlu menumbuhkan motivasi belajar siswa, guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa (Sanjaya, 2010). Hasil belajar merupakan hasil proses belajar, prilaku aktif dalam belajar adalah siswa, hasil belajar juga hasil proses pembelajaran dimana pelaku aktif pembelajaran adalah guru (Dimyati, 2002).   
            Hasil belajar adalah kemampuan siswa dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam satu kompetensi dasar. Hasil belajar dalam silabus berfungsi sebagai petunjuk tentang perubahan perilaku yang akan dicapai oleh siswa sehubungan dengan kegiatan belajar yang dilakukan, sesuai dengan kompetensi dasar dan materi standar yang dikaji. Hasil belajar bisa berbentuk pengetahuan, keterampilan, maupun sikap (Kunandar, 2007).
            Belajar yang berkenaan dengan hasil (dalam pengertian banyak hubungannya dengan tujuan pengajaran). Menurut Gagne dalam Sanjaya (2010), ada lima jenis hasil belajar, yaitu (1) belajar kemahiran intelektual (Kognitif), (2) belajar informasi verbal, (3) belajar mengatur kegiatan intelektual, (4) belajar sikap, (5) belajar keterampilan motorik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dan hasil belajar banyak jenisnya tapi digolongkan menjadi 2 yaitu faktor ekstern dan faktor intern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern faktor yang ada di luar individu. Faktor internal terdiri dari faktor jasmaniah, psikologis, dan kelelahan. Sedangkan faktor eksternal seperti faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat (Daryanto, 2010).
Hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan , ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), apllication (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai). Domain efektif adalah receiving (sikap menerima), responding (memberikan respon), valuing (nilai), organization (organisasi), characterization (karakterisasi). Domain psikomotor meliputi keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial, intelektual (Bloom dalam Suprijono, 2009).
           
2. Penelitian yang Relevan
    Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mutma’innah (2010), penerapan handout  (lembar informasi lepas) materi bergambar dengan metode belajar kelompok dalam proses belajar mengajar dapat meningkatkan hasil belajar siswa  kelas VIII3 SMPN 35 Pekanbaru Tahun Ajaran 2009/2010.
   Selanjutnya berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Toteles (2006), dapat diketahui penerapan metode diskusi dalam proses belajar mengajar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan berpengaruh terhadap hasil belajar sains siswa kelas VIII SLTPN 1 Kampar Kiri Tahun Ajaran 2005/2006. Dimana peningkatanya itu sebesar 77,33 untuk kelas tindakan dan 62,14 untuk kelas non tindakan.

E. METODOLOGI PENELITIAN
1. Tempat Penelitian dan Waktu
            Penelitian ini akan dilaksanakan di MTsN Rambah kelas VII­1 Tahun Ajaran 2010-2011. Pengambilan data penelitian mulai bulan Januari sampai bulan Maret tahun 2011.

2. Subjek Penelitian
           Subjek penelitian yang diambil adalah siswa/i kelas VII1­ MTsN Rambah Tahun Ajaran 2010-2011 yang berjumlah 39 orang siswa. Terdiri dari 17 orang siswa laki-laki dan 22 orang siswa perempuan.

3. Metode / Desain Penelitian
            Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian tindakan (action reserch) yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran dikelasnya. PTK berfokus pada kelas atau pada proses belajar mengajar yang terjadi di kelas, bukan pada input kelas (silabus, materi, dan lain-lain) ataupun output (hasil belajar). PTK harus tertuju atau mengenai hal-hal yang terjadi di dalam kelas (Arikunto dkk, 2010).
            Penelitian Tindakan Kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktik pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Mereka dapat mencobakan suatu gagasan perbaikan dalam praktik pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu (Wiriaatmadja dalam Taniredja dkk, 2010).


            Banyak manfaat yang dapat diraih dengan dilakukannya PTK. Manfaat itu antara lain dapat dilihat dan dikaji dalam beberapa komponen pendidikan/ pembelajaran di kelas, antara lain mencakup: (1) Inovasi pembelajaran, (2) Pengembangan kurikulum ditingkat regional/nasional, (3) Peningkatan profesional pendidikan (Arikunto dkk, 2010).
            Menurut Mulyasa dalam Taniredja dkk (2010), secara umum tujuan penelitian tindakan kelas adalah:
1.   Memperbaiki dan meningkatkan kondisi-kondisi belajar serta kualitas pembelajaran.
2.   Meningkatkan layanan profesional dalam konteks pembelajaran, khususnya layanan kepada peserta didik sehingga tercipta layanan prima.
3.   Memberikan kesempatan kepada guru berinprovisasi dalam melakukan tindakan pembelajaran yang direncanakan secara tepat waktu dan sasarannya.
4.   Memberikan kesempatan kepada guru memgadakan pengkajian secara bertahap terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan sehingga tercipta perbaikan yang berkesinambungan.
5.   Membiasakan guru mengembangkan sikap ilmiah, terbuka, dan jujur dalam pembelajaran.

           Adapun bentuk penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas yaitu melaksanakan satu tindakan dalam proses pembelajaran diskusi kelas dengan menggunakan media handout bergambar untuk meningkatkan hasil belajar biologi siswa. Tindakan yang akan diberikan pada penelitian kali ini adalah pembelajaran dengan menggunakan model diskusi kelas dengan bantuan media handout bergambar. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai Penelitian Tindakan Kelas, dapat dilihat desain Penelitian Tindakan Kelas pada gambar 1.












ALUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS

 




 





























Gambar 1: Desain penelitian tindakan kelas (Dimodifikasi berdasarkan Elfis, 2010d).
4. Prosedur Penelitian
1. Tahap Persiapan
1)      Menetapkan kelas yang akan diteliti yaitu kelas VII1  MTsN Rambah.
2)      Menetapkan KD yang akan dicapai siswa/ menentukan pokok bahasan yang diambil dari materi yang akan disajikan dalam pembelajaran diskusi kelas.
3)      Menyiapkan perangkat pembelajaran untuk panduan dalam melaksanakan        pembelajaran tersebut
4)      Membuat Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) dan berisi soal-soal post test.
5)      Membagi siswa dalam beberapa kelompok yang heterogen.

Tabel 2
Tahap pelaksanaan
No
Kegiatan
Guru
Siswa
1.
Kegiatan awal (± 5 menit)

·       Menginformasikan tentang indikator pencapaian.

·       Guru memotivasi siswa, memberikan gambaran manfaat mempelajari pelajaran tersebut.

·         Guru melakukan apersepsi, memberikan persepsi awal kepada peserta didik tentang materi yang akan diajarkan

Kegiatan awal (± 5 menit)

·        Mendengarkan informasi guru

·        Menjawab pertanyaan guru.


·        Menjawab pertanyaan guru
2.
Kegiatan inti (± 60 menit)

·       Guru meminta siswa duduk pada kelompok yang telah ditetapkan.

·    Guru membagikan lembaran handout bergambar pada tiap kelompok.

·    Guru menjelaskan materi pelajaran secara garis besar pada siswa dengan bantuan handout bergambar dan siswa memperhatikan handout yang ada dihadapannya.

·    Guru membagikan LKPD pada tiap kelompok yang berisi beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa.


·    Guru menyuruh siswa untuk melakukan diskusi kelompok

·    Guru meminta tiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya secara klasikal.

·         Guru memberikan informasi yang sebenarnya/memberi penguatan.

Kegiatan inti (± 60 menit

·         Menerima lembaran handout.

·         Siswa menerima handout


·            Mendengarkan penjelasan materi oleh guru sambil memperhatikan lembaran handout.

·            Siswa membaca intruksi yang terdapat didalam LKPD dan melaksanakan intruksi  tersebut .

·            Siswa melakukan diskusi dalam kelompoknya.

·            Melakukan diskusi secara klasikal, melakukan tanya jawab/diskusi kelas.

·            Menyimak penguatan yang diberikan guru.
3.
Kegiatan Akhir (± 15 menit)


·         Menyimpulkan materi pelajaran


·           Guru memeriksa hasil belajar peserta didik. Pemeriksaan ini dapat lakukan  dengan memberikan tes tertulis atau tes lisan/kuis

·           Guru memberikan arahan tindak lanjut pembelajaran, dapat berupa kegiatan diluar kelas, di rumah atau tugas sebagai bagian remedi atau pengayaan (pemberian PR).


·         Memberikan penghargaan kepada kelompok dengan kenerja yang baik.

Kegiatan Akhir (± 15 menit)


·            Bersama menyimpulkan materi pelajaran.

·             Menjawab soal-soal kuis secara individu


·             Mencatat PR yang diberikan guru.




·             Menerima penghargaan











5. Teknik Pengumpulan Data
            Teknik pengumpulan data terdiri dari dua bagian yaitu perangkat pembelajaran guru dan instrumen pengumpulan data.

5.1 Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran yaitu:
1) Standar isi
            Standar isi yaitu struktur kurikulum tingkat satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
2) Silabus
           Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/ atau kelompok mata pelajaran/ tema tertentu yang mencakup SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian, kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.
3) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
     RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Adapun komponen RPP adalah identitas mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, sumber belajar.
4) Lembar Kerja Siswa (LKS)/ LKPD
      LKS dapat diartikan sebagai lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. Selain itu LKS juga dapat di artikan sebagai lembaran kegiatan berisi petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas, dimana tugas yang diberikan tersebut dapat berupa teori maupun pratik.
5) Buku panduan belajar siswa.
            Buku pegangan yang digunakan siswa sebagai pedoman dalam kegiatan belajar mengajar.
6) Soal-soal kuis yang dilengkapi dengan kunci jawabannya.
            Soal yang disusun oleh peneliti untuk disajikan dalam setiap materi yang dipelajari.
7) Soal-soal ujian blok yang dilengkapi dengan kunci jawabannya.
            Soal yang disusun oleh peneliti untuk beberapa pokok bahasan yang sudah dipelajari.

5.2 Instrumen Pengumpulan Data
            Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah penilaian tes tertulis dan penilaian kinerja ilmiah, yaitu:
1)      Penilaian tes tertulis
Penilaian tes tertulis ini dilakukan untuk melihat peningkatan hasil belajar ranah kognitif siswa yang digunakan sebagai sumber penelitian pengetahuan pemahaman konsep. Penilaian PPK ini diambil dari nilai ujian blok, nilai quis, dan nilai tugas rumah.
2)  Penilaian kinerja ilmiah
            Penilaian kinerja ilmiah ini dilakukan untuk melihat peningkatan hasil belajar yang merupakan sumber penilaian KI. Instrumen penilaian kinerja ilmiah diambil dari tes tertulis dari LKPD (unjuk kerja), presentasi siswa dan makalah diambil untuk nilai portofolio. Untuk lebih jelasnya mengenai penilaian KI, dapat dilihat kriteria-kriteria penilaian pada lampiran 5.

6. Teknik Analisis Data
            Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis data deskriptif. Data yang diolah adalah PPK dan KI siswa.

6.1 Teknik Pengolahan Data Hasil Belajar Siswa
            Dalam penelitian ini pengolahan data hasil belajar biologi yang diperoleh, kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif  yang bertujuan untuk mendeskriptifkan hasil belajar siswa setelah diterapkannya pembelajaran diskusi kelas dengan menggunakan handout bergambar untuk melihat daya serap dan ketuntasan belajar siswa secara individual maupun secara klasikal.



6.1.1 Pengolahan Data Hasil Belajar  Kognitif (PPK)
          Menurut Elfis (2010e), nilai PPK didapatkan dari Nilai Tugas (T), Nilai Pekerjaan Rumah (PR), Nilai Quiz Tertulis (QT) dan Ujian Ketuntasan Blok (UB), masing-masing nilai ini akan digabungkan dengan rumus sebagai berikut:

PPK = 60% x (rata-rata nilai T, PR dan QT) + 40% x UB

6.1.2 Pengolahan Data Hasil Belajar  Psikomotorik (KI)
           Menurut Elfis (2010e), nilai KI didapatkan dari nilai fortofolio (LKPD dan Makalah) serta nilai kinerja ilmiah (presentasi fortofolio) masing-masing nilai ini akan digabungkan dengan rumus sebagai berikut:

KI = 40% x (rata-rata nilai Fortofolio) + 60% x (rata-rata nilai kinerja ilmiah)

6.2 Teknik  Analisis Data Deskriptif
            Analisis data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif. Analisis ini dapat dilakukan dengan melihat daya serap dan ketuntasan belajar secara individual dan klasikal. Tujuan dari analisis deskriptif adalah untuk mendeskripsikan hasil belajar siswa setelah menerapkan pembelajaran diskusi kelas dengan menggunakan handout bergambar. Menurut Elfis (2010e), Analisis deskriptif data pencapaian hasil belajar biologi siswa dilakukan dengan melihat (a) ketuntasan individu siswa, (b) daya serap siswa dan (c) ketuntasan klasikal.
            Analisis ketuntasan individu siswa, daya serap siswa dan ketuntasan klasikal didasarkan pada pencapaian hasil belajar siswa melalui dua kelompok penilaian, yaitu (a) penilaian pencapaian hasil belajar pengetahuan, pemahaman konsep (PPK), (b) penilaian pencapaian hasil belajar kinerja ilmiah (KI).
1) Kriteria penentuan pencapaian hasil belajar siswa
a) Daya Serap
Untuk mengetahui daya serap siswa dari hasil belajarnya digunakan analisis dengan menggunakan kriteria berikut:

Daya serap =  Jumlah skor yang diperoleh siswa    X 100%
Jumlah skor maksimum

Tabel 3 Interval dan Kategori Daya Serap Siswa
%  Interval
Kategori
  85 – 100
75 – 84
65 – 74
55 – 64
≤ 50
Amat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Kurang Sekali
           Disesuaikan dengan KKM Mata Pelajaran Biologi MTsN Rambah

b) Ketuntasan belajar
(a) Ketuntasan individu siswa
             Berdasarkan tolak ukur Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Di MTsN Rambah, Nilai KKM ditetapkan 65.
(b) Ketuntasan Klasikal
Menurut Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas dalam Elfis (2010e), suatu kelas dinyatakan tuntas belajar apabila sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa telah tuntas belajar. Ketuntasan dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
                                   

Keterangan:
KK      : Presentase ketuntasan klasikal
JST      : Jumlah siswa yang tuntas dalam kelas perlakuan (tolak ukur KKM)
JS        : Jumlah seluruh siswa dalam kelas perlakuan  










F. DAFTAR PUSTAKA

Amri, S dan Ahmadi, I. K. 2010. Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam Kelas. PT. Prestasi Pustakaraya. Jakarta.

Arikunto, S, Suhardjono dan Supardi. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara. Jakarta.

Daryanto. 2010. Belajar dan Mengajar. Yrama Widya. Bandung.

Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran.  Rineka Cipta. Jakarta.

Djamarah, B.S dan Zain, A. 2006. Srategi Belajar Mengajar. PT Rineka Cipta. Jakarta.

Elfis. 2010a. Konstruktivistik Dalam Pembelajaran Biologi. Available at:http://elfisuir.blogspot.com/2010/01/konstruktivistik-dalam-pembelajaran-biologi.html. Diakses tanggal 12 juni 2010.

Elfis. 2010b. Paradigma Pembelajaran Biologi. Available at:http://elfisuir.blogspot.com/2010/01/Paradigma-Pembelajaran-Biologi.html.Diakses tanggal 12 Juni 2010.

Elfis. 2010c. Bahan Ajar Cetak & Jenis Bahan Ajar Cetak. Available at: http//elfisuir.blogspot.com/2010/01/Bahan-Ajar-Cetak.html. Diakses tanggal 12 Juni 2010.

Elfis. 2010d. Desain Penelitian Tindakan Kelas. Available: http://elfisuir.blogspot.com/2010/teknik-analisis-data.html. Diakses tanggal 12 Juni 2010.

Elfis. 2010e. Teknik Analisis Data. Available at: http//elfisuir.blogspot.com/2010/01/Teknik Analisis Data.html.Selasa, 19 Februari 2010. ( Diakses: 29 April 2010).

Kunandar. 2007. Guru Profesinal Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Mutma’innah. 2010. Penerapan Handout (Lembar Informasi Lepas) Materi bergambar dengan Metode Belajar kelompok terhadap Peningkatan hasil Belajar IPA Terpadu Siswa Kelas VIII3 SMPN 35 Pekanbaru Tahun Ajaran 2009/2010. Skripsi FKIP Universitas Islam Riau. Pekanbaru.


Neviyarni. 2005. Modul Bahan Belajar Mandiri Program D-II PGSD: Strategi pembelajaran. Pusat Tegnologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan. Departemen Pendidikan Nasional.

Purwanto, N. 2007. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Purwanto. 2009. Evaluasi Hasil Belajar. Pustaka Belajar. Yogyakarta.

Sagala, S. 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran. ALFABETA. Bandung.

Sanjaya, W. 2010. Kurikulum dan Pembelajaran Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP). Kencana. Jakarta.

Suprijono, A. 2009. Cooperative Learning: Teori & Aplikasi PAIKEM. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Syah, M. 2008. Psikologi Belajar. PT Raja Grifindo Persada. Jakarta.

Taniredja, T, Pujiati, I dan Nyata . 2010. Penelitian Tindakan Kelas untuk Pengembangan Profesi Guru Pratik, Pratis, dan Mudah. ALFABETA. Bandung.

Toteles, A. 2006. Perbedaan Hasil Belajar Biologi Siswa Melalui Penerapan Metode Diskusi Di Kelas VIII SLTPN 1 Kampar Kiri Kabupaten Kampar Tahun 2005/2006. Skripsi FKIP Universitas Islam Riau. Pekanbaru.

Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Prestasi Pustaka. Jakarta.

Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif- Progresif. Kencana. Jakarta.

Uno, H. B. 2007. Teori motivasi dan Pengukurannya, Analisis di Bidang Pendidikan. Bumi Aksara.  Jakarta.
Kategori: