Handphone,Sains,Humor And Manymore (25 Des 2013 )

Coretan Dinding

To The Point
Masuk pembahasan, kurang paham "SILAHKAN TANYA"
About Me
Salam Persahabatan Untuk Teman Semua. "Keep" Spirit .

03/02/2015

Dalam teori ekonomi, persaingan usaha pada ujungnya akan memberi manfaat kepada konsumen karena alasan sederhana yaitu produsen (penjual) dipaksa untuk bekerja se-efisien mungkin. Untuk produk-produk yang menjual dengan menawarkan benefit intrinsik yang datang langsung dari produk tersebut tetapi juga value atau persepsi yang ditanamkan kepada produk tersebut maka persaingannya menjadi relatif bukan kepada produksi yang efisien tetapi pada area promosi pembentukan opini (pencitraan) agar persepsi terhadap benefit produk dan value-nya menjadi sejalan dan jelas diterima pesannya oleh masyarakat. Setelah itu dilanjutkan dengan upaya mempertahankan image atau Bahasa kerennya branding dari produk tersebut. Nah; menariknya adalah, upaya branding, dll ini membutuhkan biaya. Lihatlah bagaimana produk kosmetik misalnya membuat branding dan menjual image / persepsi ini dengan mengeluarkan biaya-biaya yang sangat signifikan untuk tiga komponen utama:
  1. membiayai iklan milyaran di televisi,
  2. menyewa outlet / toko pada mal dengan lokasi prime
  3. membayar artis-artis top untuk mendukung positioning dari produknya
Ketiga komponen cost diatas sangat menguras biaya, harga spot iklan di televisi untuk 15-30 detik berkisar pada biaya Rp 6 – 20 juta. Untuk acara televisi yang berita sore misalnya; maka biaya per spot iklan ini rata-rata Rp 10 juta; jika iklan diputar selama 10 kali dalam acara ini saja maka sudah dikeluarkan biaya Rp 100 jt per hari. Tidak heran jika budget iklan setahun untuk satu produk bisa mencapai ratusan milyar rupiah. Demikian pula untuk biaya artis-nya; untuk iklan bisa ratusan sampai dengan milyaran rupiah untuk sekali iklan. Jika dua atau tiga artis sekaligus yang digunakan maka lebih banyak lagi. Tentu saja jika dibagi dengan jumlah produksi-nya maka biaya ini akan menjadi kecil per unit barang yang dijual; tetapi dalam persentasi cost dari unit tersebut maka biaya ini masih signifikan. Demikian pula biaya untuk beberapa kosmetik yang agar sejalan dengan branding nya maka perlu pula menyewa tempat-tempat di mal yang harga per square meter-nya sangat mahal. Pola seperti ini terjadi terutama untuk produk-produk kosmetik dengan metode penjualan konvensional yaitu single level marketing (SLM).


( Sumber gambar : drg. Astriani Karnaningrum )

Berbeda dengan metode SLM ini maka penjualan produk-produk kosmetik dengan metode MLM relatif tidak mengeluarkan dana signifikan untuk ketiga area biaya tersebut. Penjualan model MLM melakukan spread dari tiga biaya tersebut diatas kepada jaringan penjual nya. Setiap unit penjual di kosmetik MLM maka akan menjadikan penjual-nya sebagai pemakai dan selanjutnya sebagai ‘bintang iklannya’ dan sekaligus mini-warehouse untuk menyimpan barang. Promosi dilakukan dari mulut ke mulut dan menjadi lebih egaliter karena jaringan penjual ini selalu berhubungan dengan produsen-nya. Penjual di MLM akan relatif mendapat margin yang memadai serta terbagi transparan antara penjual di level pemula sampai dengan upline beberapa level diatas-nya. Hukum volume, seperti halnya di SLM maka berlaku pula di MLM, semakin besar volume penjual jaringan maka semakin besar pula komisi / margin yang diperoleh. Secara umum bisa dibuktikanbahwa di jaringan MLM, lebih banyak orang yang berkesempatan mendapatkan pendapatan lebih besar / memadai dibandingkan dengan jaringan kosmetik yang model SLM. Model ini lebih tepat hanya memperkaya sebagian kecil saja yaitu industri TV, artis dan pemilik properti.


Ingin punya bisnis untuk persiapan pensiun dengan tenang bukan? Disinilah anda menemukannya, dan segera daftar atau pengen konsultasi bisa melalui blog kosmetikrokanhulu  atau melalui fun page facebooknya Kosmetik Rokanhulu
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment